Cukup itu Indah

Di sebuah desa hiduplah seorang yang sangat miskin. Setiap hari ia mencari kayu di hutan dan dijual ke pasar. Uangnya ia gunakan untuk makan sehari-hari bersama istrinya. Mereka belum mempunyai anak.

Pada suatu sore, sepulang dari mencari kayu, si miskin itu berjalan di tepi telaga. Karena kelelahan, si miskin itu sampai tidak sengaja menjatuhkan kapaknya ke dalam telaga. Telaga itu sangat dalam. Ia tidak berani masuk ke telaga itu dan mengambilnya sendiri. Namun, kapak itu adalah satu-satunya kapak yang ia miliki. Ia sangat membutuhkan kapak itu untuk bisa tetap bekerja menebang pohon di hutan.

Si miskin itu segera berdoa kepada Tuhan. “Ya Tuhan, tolonglah aku. Aku kehilangan kapak satu-satunya yang kumiliki. Tolonglah aku untuk mendapatkan kembali kapak itu.” Tuhan pun segera mengirimkan malaikat-Nya untuk membantu mendapatkan kapak yang terjatuh di telaga itu.

Malaikat segera turun ke bumi dan terjun ke telaga itu, mencari di mana kapak itu terjatuh. Beberapa saat kemudian, malaikat itu muncul ke permukaan air dan membawa sebuah kapak emas. Malaikat bertanya pada si miskin, “Inikah kapakmu yang terjatuh itu?” Si miskin melihat bahwa kapaknya bukanlah kapak emas. Lalu ia menjawab, “Bukan, itu bukan milikku.” Lalu malaikat kembali menyelam dan mencari kapak milik si miskin. Beberapa saat kemudian malaikan muncul kembali dan membawa sebuah kapak perak, “Inikah kapakmu?” Si miskin berkata, “Bukan, kapakku bukan kapak perak.”  Tanpa berlama-lama lagi pun malaikat kembali menyelam dan mencari kapak yang lain. Lalu malaikat menemukan kapak tua dan sudah usang. Malaikat bertanya, “Apakah ini yang kau maksud?” Si miskin menjawab, “Ya, benar itu kapakku. Terimakasih karena engkau membantuku mendapatkannya lagi.”

Malaikat itu terkesima karena kejujuran si miskin itu. Si miskin bisa saja berkata bahwa kapak emas yang pertama kali ditemukan adalah miliknya, tetapi si miskin tidak melakukannya. Kebalikannya, ia malah tetap mencari kapak tua dan usang itu. Akhirnya malaikat itu malah memberikan kedua kapak yaitu kapak emas dan kapak perak kepada si miskin itu.  Si miskin itu merasa bahagia sekali karena mendapatkan berkat yang tak terduga itu.

Setelah sampai di rumah, ia menceritakan apa yang telah terjadi kepada istrinya. Istrinya pun juga merasa bahagia karena mendapatkan berkat tambahan berupa kapak emas dan kapak perak. Mereka pun sepakat untuk menukarkannya dengan kebutuhan hidup yang lainnya. Keesokan harinya mereka pergi ke kota untuk menukarkannya dengan barang-barang kebutuhan mereka.

Saat pulang dari kota, mereka kembali melewati telaga itu. Karena terlalu bahagia dan kesusahan membawa barang bawaan, istri si miskin itu terpeleset dan jatuh ke dalam telaga. Si miskin itu panik dan berdoa kepada Tuhan, “Tuhan tolonglah aku sekali lagi, istri satu-satunya yang kumiliki kini jatuh ke dalam telaga.” Tuhan pun mengirimkan malaikat untuk mencari istrinya yang tenggelam karena terjatuh ke dalam telaga itu.

Malaikat menemukan seorang wanita di dalam telaga dan mengangkatnya, ternyata wanita itu adalah Luna Maya. Malaikat bertanya, “Apakah ini istrimu?” Si miskin melihat bahwa wanita tersebut adalah Luna Maya dan ia berkata, “Bukan, dia bukan istriku.” Lalu malaikat kembali mencari dan menemukan wanita yang sebenarnya adalah istri si miskin itu. “Apakah ini istrimu?” tanya malaikat. “Bukan.” jawab si miskin. Malaikat mulai curiga dan mencari lagi wanita di dalam telaga. Ia akhirnya menemukan wanita yang ternyata adalah Manohara, “Apakah ini istrimu?”. Si miskin dengan wajah sumringah menjawab, “Ya, ia istriku.”

Si miskin itu tidak bisa membohongi malaikat bahkan terlebih lagi membohongi Tuhan. Ia tidak mendapatkan satu wanita pun yang telah ditemukan malaikat.

Cerita di atas adalah cerita fiktif yang mungkin mirip dengan kehidupan kita sehari-hari. Tuhan tahu betul apa yang kita butuhkan dan bukan apa yang kita inginkan. Tuhan akan mencukupkan apa yang kita butuhkan.

Sudahkah kita bersyukur akan apa yang kita miliki sekarang? Apakah kita tetap setia memegang integritas kita untuk tetap jujur akan apa yang sebenarnya kita butuhkan? Apakah sebaliknya kita tidak bisa bersyukur, dan malah menjadikan keinginan kita seakan-akan adalah kebutuhan kita?

Selamat hari minggu.

This entry was posted in Humor. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

9 Comments

  1. Posted September 14, 2009 at 4:35 am | Permalink

    sukoharjo,
    nama kota asal istri saya :)

  2. Posted September 14, 2009 at 10:20 am | Permalink

    hooo…nggih. salam kenal ya pak andi :)

  3. Posted September 14, 2009 at 5:18 pm | Permalink

    brOoo boleh tau g Adminnya sp bisa hub dmn??

  4. Posted September 14, 2009 at 6:34 pm | Permalink

    sudah lihat2 di web ini belum. tidak susah kok mengetahuinya. Kontributornya ada di http://www.sukoharjo.org/kontributor. Cara menghubunginya ya di sini http://www.sukoharjo.org/kontak

  5. Posted September 14, 2009 at 9:22 pm | Permalink

    salam kenal sobat…
    salam persahabatan dari nag polokarto…
    sukses selalu….

  6. Posted September 16, 2009 at 2:00 am | Permalink

    Salam kenal but webmaster sukoharjo.org…..artikel yang bagus sekali…..nuwun

  7. Posted September 16, 2009 at 8:58 pm | Permalink

    kejujuran itu yang bisa menilai dengan adil hanya Yang Maha Kuasa. Salam Sukoharjo!

  8. Posted September 21, 2009 at 2:30 pm | Permalink

    Minal Aidin Wal Faizin, Mohon maaf lahir bathin

  9. Posted September 23, 2009 at 10:57 am | Permalink

    salam hangat dan persaudaraan dari KomBlog KalSel (http://kayuhbaimbai.org). Mohon maaf kalau OOT
    saya butuh bantuan untuk dapat no contact person ketua komunitas/adminnya untuk saya bikin list Blogger Se-indonesia, mohon bantuannya teman. sms saya di 085251534313/0511-7718393

    salam
    chandra

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>