6 responses to “Pasar Tradisional Yang Terpinggirkan”

  1. Herusastro

    yup.. itulah yang terjadi sekarang mas.. kita bebas memilih dimana kita bisa berbelanja… masyarakat mencari kemudahan untuk memenuhi kebutuhannya.. walaupun mereka rela uang kembalian digantikan dengan permen. (COBA KITA PIKIRKAN !! APAKAH BILA PERMEN KITA TERKUMPUL BANYAK, BISAKAH UNTUK MEMBELI SESUATU DI TOKO ITU?)
    Saya cinta pasar tradisional yang bersih dan para penjualnya jujur…

  2. nuG

    wah sekarang y gitu boss… ngikut jaman

  3. Joulecar

    pasar nggawok sih rame mas….

  4. andi t.a.

    yoi. pasar tradisional semakin terpinggirkan. karena kemudahan membeli di minimarket.

    tp kadang2 jg lebih prefer di pasar tradisional kalo mau belanja.
    misalnya kalo beli bahan masakan sehari-hari ato buah dsb, lebih enak ke pasar tradisional. pagi2 sambil jalan pagi sbg olahraga&cuci mata.

    apalagi pas lebaran kmaren. cuma pasar tradisional yg menyediakan bhn makanan. kantin, resto, dll pada tutup.

    di tws ada pasar legi tawangsari.
    kalo di tempatku sekarang(Bdg), masih banyak pasar tradisional yg dekat, semisal pasar buah&sayur dini hari di Simpang ama pasar Suci.

  5. erf

    seharusnya pemda bisa mempertahankan pasar tradisional..karena disitulah harkat martabat dan budaya dijunjung. didalamnya terdapat unsur2 sifat bangsa yang terkenal di seluruh dunia, salah satunya adalah keramahan warga Indonesia..hidup paSAr tradisional!!!!

  6. yosafat

    sepertinya memang kecenderungannya lebih banyak dibangun mall2 baru…

Leave a Reply