Beberapa waktu lalu, saya memeriksakan gigi kedua anak saya. Nanin, anak saya yang kecil, umur 10 tahun, mengalami goyang pada kedua gigi taringnya. Rupanya gigi susu itu sudah waktunya untuk berganti gigi dewasa. Diki, anak saya yang besar, 14 tahun, mengalami pecah gigi geraham yang diakibatkan terjatuh pada waktu bermain sepak bola. Berhubung waktu sudah terlalu siang, saya membawanya ke Puskesmas Pajang, Laweyan, Surakarta (Poli Gigi di Puskesmas terdekat tutup pada jam 10.30).
Setelah membayar karcis untuk pemeriksaan 2 pasien @Rp 7.500, tidak menunggu terlalu lama kedua anak saya sudah ditangani oleh dokter gigi yang bertugas. Nanin yang dicabut dua gigi taringnya (tanpa komplikasi) dikenakan lagi biaya tindakan sebesar Rp. 15.000. Diki yang giginya ditambal sementara dan seminggu sesudahnya harus periksa ulang dikenakan biaya tindakan sebesar Rp. 7.500. Total, belanja hari itu di Puskesmas Pajang menghabiskan 7500+7500+15000+7500= Rp 37.500.

Dibandingkan dengan biaya ke praktek dokter gigi, tentunya terhitung sangat murah. Namun, ketika tadi siang (2/11/2009) saya ada keperluan di Puskesmas Kartasura II di Pabelan, Kartasura, saya terkejut karena mendapatkan data yang berbeda. Yang pertama adalah tidak dikenakan biaya pendaftaran/karcis. Khusus untuk Poli Gigi diberlakukan aturan sebagai berikut:
Tindakan gratis di Poli Gigi (Perda No. 15 Tahun 2006):
- Penambalan gigi susu.
- Penambalan gigi dewasa.
- Pencabutan tanpa komplikasi dengan bahan anestesi dari gudang farmasi DKK Sukoharjo.
Tindakan berbayar di Poli Gigi (Perda No. 19 Tahun 2000):
- Perawatan saluran akar untuk gigi gangrene, setiap kunjungan dikenakan biaya Rp 3.000.
- Pengambilan karang gigi dikenakan biaya Rp 15.000.
- Pencabutan gigi dengan komplikasi (anestesi mandiri) dikenakan biaya Rp 15.000.
Rupanya untuk urusan kebijakan dan pelayanan publik di bidang kesehatan yang pro rakyat miskin, Kabupaten Sukoharjo selangkah lebih maju dibandingkan dengan Kota Surakarta…
Apakah sedulur bermasalah dengan gigi??? Segera periksakan di Puskesmas terdekat!…
Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Andy MSE, warga Gumpang, Kartasura, Sukoharjo.
Itu kalau diriku berobat gigi selalu ke Bulik yang kebetulan dokter gigi, jadi gratis
. Tapi kadang-kadang risih juga, mosok ndak bayar, padahal kan harga obatnya mahal. Lalu perilaku kita sendiri kan yang bikin tu gigi bolong.
waah… kalau itu sih sudah lama, pak.. saya sudah mengalami gratisan cabut gigi susu di puskesmas Baki waktu gigi anak saya citra,6 th goyang…. sudah 3 kali malah…
salut untuk pelayanan kesehatan kabupaten sukoharjo…
dibandingkan dulu…sewaktu nyabutke gigi susu anak saya yang besar, putri,ke specialis kunjungan pertama baru dikasih puyer sudah bayar 25.000, 3 hari kemudian datang lagi, cabut, 25.000 + obat, 3 hari lagi disuruh balik bayar lagi 25.000.. jadi 75.000 !!! hanya untuk 1 gigi..
Betul… dari pelayanan sampai peraturan, urusan kesehatan di Sukoharjo relatif lebih baik dibanding kota lain…
*spesialis maha juga ya?* (doh)
Wah mending ke puskemas saja yaw, soalnya saya biasanya pangil spesial gigi ke rumah minimal 50.000 rb sekali datang.