8 responses to “Sawah vs Pemukiman”

  1. yosafat

    matur nuwun pak sampun nulis di blog ini. mugi2 makin bermutu lan rame website sukoharjo puniko.

  2. wawan

    kebetulan saya kuliah ambil pertanian
    memang salah satu masalah yang dihadapi pertanian saat ini yaitu berkurangnya lahan akibat pembangunan, irigasi yang tidak terurus,pemakaian pestisida&pupuk buatan yg berlebihan,dll
    pdhl kebutuhan akan pangan slalu meningkat,tp kok banyak yg mengganti lahan pertanian mereka dgn bangunan
    bukannya indonesia negara agraris?? bercita2 mjd sumber pangan dunia

  3. dody adibrata

    Sebenarnya yang penting bagaimana pemerintah daerah atau pemerintah mana saja bisa memperjelas tata kota dan peruntukan lahan…jangan sampai tumpang tindih demi alasan “meningkatkan APBD dan Menarik Investor????? “. Sebaiknya kawasn industri dan perumahan di dirikan di lahan tidak produktif. Di negara sebelah (Australia)..peruntukan tnah sangat ketat ijinnya, setiap jengkal top soil yang kita gali ada ongkos rehabiltasi atau rencana pemindahannya secara jelas…semacam ada biaya kompensasi untuk alam,,,(bukan untuk pemerintahnya :) ……selain itu benar sekali bahwa negara kita masih bingung dalam memilih jatidirinya..apakah negara agraris atau negara industri de el el….sebenarnya lebih mantap kalau dua2nya..negara industri agraris he3x…

  4. prado

    pemngambilan topsoil utk bahan pembuatan batu bata oleh petani sebenernya udah puluhan tahun yg lalu…jaman dulu petani pembuatan batu bata hanya dilakukan saat musim kemarau dimana sawah gak bisa ditanami padi krn persediaan air gak cukup[bero] da utk mengisi waktu luang para petani dimusim kemarau…tp sekarang bikin batu batu sudah gak mengenal wayah dan dah jadi home industri…akibatnya eksploitasi topsoil jg sewayah-wayah……..

  5. Andy MSE

    nyuwun sewu, taksih repost, dereng wonten ide segar ingkang khusus kangge sukoharjo.org…
    *niki badhe usul dhumateng admin, kersaa ngangge feedpress supados postingan rencang2 kontributor ingkang mawi tag/kategori tertentu contonipun “sukoharjo” saged langsung keposting wonten mriki. ngirit space, tetap up to date*

  6. Andy MSE

    karena angkuh sudah kalah sama butuh, dan pada tulisan di atas tak bisa dielakkan bahwa pemukiman akan menggeser lahan pertanian, mungkin solusinya adalah pembukaan lahan baru (ketika intensifikasi sudah mentok)…
    tapi dimana???

  7. Andy MSE

    mantap kalau industrinya mendukung agraris… jadinya nggak perlu hasil pertanian, perkebunan, hutan dan sebagainya diekspor mentahan ke luar…
    masalahnya di investasi… ketika (lagi-lagi) yang bermain adalah investor asing, kita jadinya tidak memiliki…

  8. Andy MSE

    tidak semua tempat begitu, entah kalau di mBaki Sukoharjo ini, hehehe…
    di tempat lain yang saya amati, misal di kampung kelahiran saya, untuk jenis sawah tadah hujan ada pola tanam yang khas… di musim hujan tanam padi, bila masih cukup air ya padi lagi, bila tidak segera diganti palawija, di tempat tertentu ada jeda tidak ditanami sama sekali sekitar 2-3 bulan karena tidak tersedia air sama sekali. tapi pada saat itu hanya sedikit yang berniat membuat batu-bata. sebagian petani mengalihkan aktivitas di hutan, sebagian lain menjadi buruh serabutan di sektor lain misalnya pertukangan, home industri, dll…
    tapi memang betul bahwa jaman semakin ke sini, eksploitasi tanpa batas semakin menjadi-jadi…

Leave a Reply